Jakarta (Sangat) Perlu Ruang Publik

Pembangunan di kota-kota besar, terutama di Jakarta kayaknya nggak ada habisnya. Tiap saat, ada aja proyek yang mulai dibangun, mulai dari gedung perkantoran, apartemen mewah, sampe hotel. Tapi ada satu proyek yang selalu dibangun oleh para developer-developer oportunis itu tanpa peduli jumlah yang telah ada sebelumnya yang sebenarnya sudah terlalu banyak. Apalagi kalau bukan shopping arcade alias pusat perbelanjaan atau yang nama kerennya adalah mall.

Coba kita hitung, ada berapa jumlah mall yang sudah ada di Jakarta saat ini. Eh, mungkin terlalu banyak ya untuk disebutkan di sini. Hmm, ambil contoh di daerah Senayan aja deh. Ada Senayan City, Plaza Senayan, STC, FX, dan kabarnya bakal segera dibangun Plaza Senayan Phase 2 dan Senayan Archipelago. Wah, di satu area aja ada empat mall dan dalam waktu dekat bakal bertambah jadi enam? Ini baru di daerah Senayan, belum lagi di area lain yang juga memiliki begitu banyak mall. Sebenarnya, saat ini mall memang menjadi primadona. Semua orang menghabiskan waktu di mall. Makan siang di mall, makan malam di mall, jalan-jalan di mall, rapat di mall, arisan di mall, pokoknya semuanya di mall deh. Mall pun kemudian beralih fungsi dari pusat perbelanjaan menjadi tempat gaya hidup yang sekaligus menjadi ruang publik. Kenapa hal ini bisa terjadi kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya ruang terbuka untuk publik, untuk masyarakat bisa berkumpul, berjalan-jalan, dan sebagainya. Ya, memang perbandingan antara jumlah mall dan ruang publik seperti taman kota memang berbanding sangat jauh, mungkin dari 10 jumlah mall yang dibangun tiap tahunnya, hanya satu hingga dua taman kota yang dibangun. Menyedihkan.

Untuk menyiasati tidak seimbangnya pembangunan mall dibandingkan dengan ruang publik di kota ini, saya dulu pernah berpikir mengenai konsep penggabungan antara mall, atau pusat perbelanjaan, dengan ruang publik seperti taman kota. Dan muncul lah ide konsep sebuah taman kota yang diintegrasikan dengan tempat berbelanja yang saya namakan LiFE, yang kepanjangannya adalah Living in Fine Environment.

Seperti apa sih LiFE itu?

LiFE itu sebenarnya adalah sebuah taman kota yang bisa menjadi ruang publik dan dikelola oleh pihak swasta. Selama ini, taman kota kan dikelola oleh Dinas Pertamanan yang notabene adalah di bawah Pemda Jakarta. Hmm, tanpa ada maksud mengecilkan, tapi kalau di bawah Pemda biasanya biaya untuk pemeliharaan taman kan pasti agak tersendat-sendat karena memang saat ini taman kota memang bukan prioritas. Jadi, dengan pengelolaan swasta seperti LiFE ini, taman kota semoga saja bisa lebih terawat dan rapi sehingga menyenangkan untuk warga Jakarta saling berkumpul dan menghabiskan waktu bersama-sama. Mungkin semua orang bakal bertanya-tanya, kalau dikelola swasta, dari mana dana untuk pemeliharaannya? Nah, di sini ini fungsi dari pengintegrasian taman kota / ruang publik dengan pusat perbelanjaan. Di dalam LiFE, pembagian ruang adalah sebesar 80:20. Ruang sebesar 80% dialokasikan untuk ruang publik, dan 20% sisanya untuk ruang retail. Ruang retail dalam LiFE berupa sebuah gedung kecil yang terdiri dari dua tingkat. Tingkat pertama difungsikan untuk tenant food & beverages, sedangkan di tingkat kedua untuk retail atau yang menjual barang-barang dan akan ada section yang dikhususkan untuk usaha-usaha dari UKM. Nah, pendanaan untuk memelihara taman itu nantinya berasal dari uang sewa dari gedung retail ini.

Nah, sisa ruang sebesar 80% adalah untuk sebuah taman besar. Taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kolam air mancur, water tap yang dapat diminum, kursi-kursi untuk bersantai, family playground, amphiteater untuk performance art dan pertunjukan musik di akhir minggu, jogging dan cycling track lengkap dengan tempat penyewaan sepeda, tempat parkir untuk sepeda pribadi, dan gedung parkir untuk mobil dan motor. Selain itu LiFe juga akan ditanami dengan rumput di sebagian besar arealnya dan berbagai macam bunga-bunga, serta ditumbuhi berbagai macam pohon-pohon yang rindang dan sekaligus menjadi semacam tempat konservasi bagi pohon-pohon dari jenis yang hampir langka. Ini sebenarnya juga menjadi tujuan utama LiFE, yaitu sebagai taman kota yang dapat menyaring polusi di tengah kota, “go green” lah kira-kira.

Kolam air mancur di KLCC Park, KL

Kolam air mancur di KLCC Park, KL

Selain dari menyewakan space untuk retail sebagai sumber dana untuk pemeliharaan, LiFE juga akan bekerja sama dengan berbagai perusahaan dalam penyediaan sarana-pra sarana taman. Kerja sama ini bisa dijadikan sebagai bentuk CSR dari perusahaan-perusahaan tersebut. Misalnya, untuk family playground akan dibangun oleh perusahaan yang concern dengan pertumbuhan anak-anak seperti Nestle atau Indofood. Atau panggung amphiteater yang disponsori oleh perusahaan multimedia seperti Sony atau Samsung. Jadi, family playground-nya nanti akan disebut sebagai Nestle Playground atau Indofood Playground atau amphiteater yang diberi nama Sony Amphiteater atau Samsung Amphiteater, lengkap dengan logo-logo perusahaan di alat permainan atau panggung yang sekaligus bisa menjadi alat marketing perusahaan mereka. Dengan banyaknya kerjasama di berbagai infrastruktur penunjang LiFE, diharapkan sih LiFE bisa berkembang dan terpelihara dengan baik.

Contoh playground di Central Park NYC

Contoh playground di Central Park NYC

Untuk lokasinya, saya sih inginnya LiFE dibangun di tengah-tengah kota. Sehingga bisa menjadi tempat warga Jakarta berkumpul untuk menghabiskan sore hari setelah bekerja atau beraktivitas. Ya kira-kira bakal dikondisikan seperti Central Park di NYC, Yoyogi Park di Tokyo, atau bahkan KLCC Park di KL, tapi dalam skala yang lebih kecil mengingat jarangnya ada tanah yang luas di tengah Kota Jakarta ini.

Taman di antara gedung-gedung tinggi seperti ini lah kira-kira LiFE nantinya

Taman di antara gedung-gedung tinggi seperti ini lah kira-kira LiFE nantinya

Yaaa, ini sih masih cita-cita saya saja. Masih terlalu jauh untuk direalisasikan. Tapi ya didoakan saja siapa tahu nantinya LiFE ini bisa benar-benar terwujud.

Oh iya, sebenarnya saya ada gambar sketsa bentuk LiFE kira-kira. Tapi saya belum sempat meng-scan gambar itu, jadi ya nanti saja lah menyusul.

NB : Waktu itu saya pernah blog-walking dan menemukan konsep yang mirip dengan LiFE dengan nama Active Space. Namun, Active Space lebih menitik beratkan pada ruang publik untuk beraktivitas olahraga seperti skateboarding, kolam renang umum, dan semacamnya. Sementara LiFE ini lebih lebih ke arah penghijauan namun juga bisa dimanfaatkan untuk beraktivitas.

Blogged with the Flock Browser

Tags:

Advertisements

4 Responses to “Jakarta (Sangat) Perlu Ruang Publik”

  1. thats a very nice idea! but i dont think i will go there very often, since matahari pasti sangat terik deh hahaha.

    however, i think indonesia should move their governmental thingy from jkt. build another town. just like what US did. government in washington while business thing in NY. complicated? yes i know haha

  2. Dulu kan pernah, Nda.. Pas jamannya Eyang Harto, mau dipindahin ke Bojong! Eeeh, dia ambruk duluan sebelom jadi dipindahin pusat pemerintahannya..

  3. tapi yah yang namanya orang indon, susah banget ngejaga kebersihan publik! (gak semua orang sih, tapi kebanyakan orang mang gitu)! si central park yang di NY tuh bersihnya naudzubilah dah, padahal cleaning guynya dikit banget (mungkin), tapi kalo diterapin di Indonesia, kalo pun mo dibangun ma pihak swasta, si private entity ini musti nyediain super-large army buat bebersih!

  4. kudakugagahberani Says:

    I give u 4 letters for this..
    N-I-C-E

    we got the same thought..
    and the question is…how?..haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: