Archive for the Ideas Category

Makna

Posted in Artwork, Creativity & Innovation, Ideas on December 28, 2008 by Primo

Kata orang, kalau kita bener-bener pengen sesuatu, kita harus bisa memvisualisasikannya. Niscaya bakal terwujud persis seperti yang kita visualisasiin sebelumnya itu.

Dan, gw mau mulai mempercayainya.

Gw punya obsesi untuk membuat film. Ya, either gw as a scriptwriter atau gw as a director. Yang mana aja lah, yang penting gw bisa bikin film.

Dan setelah banyak screenplay yang gw tinggalin karena writer’s block, akhirnya gw mau fokus sama satu screenplay. Yang satu ini harus gw selesaiin tahun 2009, bareng sama tugas akhir/skripsi gw yang juga bakal selesai tahun depan. Mudah-mudahan tengah tahun udah selesai. Yasmin Ahmad aja nulis beberapa skenarionya cuma dalam 5 hari, dan hasilnya awards dari mana-mana. Ck ck ck.

Nah, mengingat petuah yang bilang kalo mau tercapai harus divisualisaiin, gw mulai memvisualisasikan yang ingin gw capai itu. Dan hasilnya, sebuah poster fiktif buat film impian gw itu!

Here it is!

makna-poster-clean
Oh iya, fotonya bukan gw yang motret. Itu ngambil dari DeviantArt orang, tapi gw lupa namanya. Hehehe. Ya pokoknya makasih buat dia deh, membantu memvisualisasikan impian gw. Hahaha.

The National Museum Of Film And Music

Posted in Creativity & Innovation, Ideas with tags , , , , on October 19, 2008 by Primo

Beberapa hari yang lalu gw nonton HBO, di situ ada film “Tenacious D: Pick of Destiny”. Cerita film itu tentang dua sahabat yang tergabung di sebuah group band, mereka berniat mencuri “pick of destiny” yang katanya dirasuki setan, jadi pick itu bisa bikin mereka hebat main musik. Nah, pick gitar itu ada di sebuah museum; museum musik. Nah! Set museum itu di filmnya keliatan keren banget! Setiap section punya dekorasi sendiri yang disesuaikan sama jenis musiknya. Misalnya, kalau ruangan untuk musik punk, ruangannya dipenuhi sama coretan-coretan yang ngegambarin punk dan jiwa rebel gitu.

And suddenly an idea popped out of my head.

Di Indonesia, museum itu identik sama benda-benda sejarah yang tua, kuno, berdebu, dan boooriiing. Makanya orang Indonesia jarang banget ada yang suka ke museum. Padahal, banyak informasi yang bisa didapet kalau kita datang ke museum. Setelah gw liat museum di film itu, gw terinspirasi untuk ngebangun:

The National Museum Of Film And Music

Nah, museum ini dibangun untuk mendokumentasikan perjalan sejarah musik dan film Indonesia dari tahun ke tahun. Gini gini, selama ini kan nggak ada pencatatan dan pengarsipan artefak-artefak musik dan film yang tertata rapi di Indonesia, jadi museum ini bakal dibikin untuk mengakomodir hal itu semua. Pendokumentasian ini menurut gw penting baget karena gw nggak mau generasi yang akan datang nggak tahu kalau industri musik dan film di Indonesia pernah jatuh bangun.

National Centre of Popular Music at Sheffield, UK

National Centre of Popular Music at Sheffield, UK

Buat pembagian ruangan, museum ini bakal dibagi jadi dua gedung; gedung film dan gedung musik. Masing-masing memiliki ruang exhibition yang dibagi dalam beberapa kategori. Kalau gedung film, ruangan bakal dibagi berdasarkan dekade. Nah, tiap-tiap ruangan dekade itu bakal didekor sedemikian rupa sehingga nuansanya sesuai dengan dekadenya. Yang bakal dipajang di gedung film ini adalah poster-poster film Indonesia sepanjang masa lengkap dengan sinopsis dan memorabilia film-film tersebut. Dan yang menariknya, di tiap display akan dilengkapi oleh LCD screen kecil yang menayangkan potongan film yang dipajang. Selain itu, gedung film ini akan dilengkapi ruangan khusus untuk menyimpan rol-rol film dari jaman dulu sampai yang paling baru. Di gedung film juga bakal ada sebuah studio film besar yang nantinya bisa digunakan sebagai tempat premiere film-film Indonesia.

Memorabilia from Hollywood Movie, Dreamgirls

Memorabilia from Hollywood Movie, Dreamgirls

Seattle Art Musem at Seattle, USA

Seattle Art Musem at Seattle, USA

Sedangkan gedung musik akan dibagi berdasarkan genre musik. Ruangan exhibitionnya juga akan didekor sesuai dengan mood jenis musiknya. Di tiap ruangannya akan ada display band-band dan penyanyi yang terkenal di tiap genrenya. Display tersebut akan menampilkan foto band atau penyanyi tersebut, diskografinya, dan sebuah listening station yang bisa dipakai pengunjung untuk mendengar lagu-lagu dari band atau penyanyi tersebut. Di gedung musik ini juga akan ada sebuah concert hall yang besar yang bisa dipakai untuk konser musisi Indonesia.

Nah, yang menarik, antara gedung film dan gedung musik akan digabungkan oleh koridor yang memajang soundtrack film Indonesia. Kenapa soundtrack? Karena soundtrack adalah penggabungan antara industri musik dan film. Jadi, koridor ini secara simbolis menggambarkan pengintegrasian antara musik dan film.

Dengan arsitektur museum yang modern dan dibuat sangat nyaman, diharapkan sih orang Indonesia jadi rajin datang ke museum, setidaknya museum ini.

Hmm, kapan ya gw bisa merealisasikan museum ini?

PS: Special thanks for Dani, yang udah ikutan nambahin ide museum ini..

Project “I’m (Not) Afraid”

Posted in Creativity & Innovation, Ideas with tags , , , on October 16, 2008 by Primo

I was impressed and excited about project named “PostSecret” by Frank Warren. The project, actually mix of art and social campaign because people are asked to send a postcard with their secret written there. The postcard should be decorated.

I thought, this project is great because it combines two important things that everyone should have; creativity and honesty. But unfortunately, PostSecret are only available in America, France, German, Spain, and China. Actually, we can send our secret to the American address or other version address, but I think that will takes a long time before our postcard arrive there and there’s a chance that our secret are not posted on the PostSecret blog. So, I came up with the idea of our own PostSecret, PostSecret Indonesia. I already e-mailed Frank Warren about this idea, but still no reply until now. Okay, then I canceled my idea of PostSecret Indonesia due to the difficultness to get the “license” from Frank and start to think about my own original project.

After hours, then I finally got the original project. I named it “I’m (Not) Afraid”.

I adopted some parts of PostSecret on I’m (Not) Afraid. Here, in my project, people are asked to write their phobia(s). It can be anything; from afraid of dog, afraid of rubberband, to afraid of being lonely or afraid of new relationship. It should be written on decorated postcard just like PostSecret. But beside that, there’s also an addition for the project. I’m (Not) Afraid will distribute fun or silly facts about things that people are commonly afraid of; to let they know things that they afraid of it’s not that frightening.

In PostSecret, the postcard should be airmailed. I made change on my project about that. I will put I’m (Not) Afraid drop box on public areas such as campus, schools, bookstores, and other places. There, I will also put plain postcard so people who come there but don’t know about this project can take the postcard and at their next visit, they can drop the postcard onto the box.

Okay, I guess it will start on January 2009. Don’t be afraid, people!

Creative Company: (X)SML

Posted in Creativity & Innovation, Ideas with tags , , on October 15, 2008 by Primo

(X)SML is Jakarta-based fashion label. It was created by Biyan Wanaatmadja, or simply known as Biyan; Indonesian top designer. Actually, Biyan has already had his own label named BIYAN, but then he created (X)SML to reach wider market. (X)SML targeted young people unlike BIYAN.

This is Biyan

What so amazing about (X)SML is it rapidly become leading local brand on fashion industry. With unique and edgy design, it’s as fashionable as international brand such as Mango, Zara, Topshop/Topman, and others.

Since 2005 (if I’m not mistaken), Biyan recruits new talents from local design school’s graduates to work as his team on (X)SML each year. It is meant to keep the spirit of youth on the designs of (X)SML. Now the head of creative team is Rama, but the designs are still supervised by Biyan himself.

Now, (X)SML has already spread its wings to Philippines and other South-East Asian countries soon.

For me, (X)SML become my inspiration. I have a plan to create a fashion label just like (X)SML which grows vastly and I hope it can be happened so soon.

Jakarta (Sangat) Perlu Ruang Publik

Posted in Creativity & Innovation, Ideas on September 6, 2008 by Primo

Pembangunan di kota-kota besar, terutama di Jakarta kayaknya nggak ada habisnya. Tiap saat, ada aja proyek yang mulai dibangun, mulai dari gedung perkantoran, apartemen mewah, sampe hotel. Tapi ada satu proyek yang selalu dibangun oleh para developer-developer oportunis itu tanpa peduli jumlah yang telah ada sebelumnya yang sebenarnya sudah terlalu banyak. Apalagi kalau bukan shopping arcade alias pusat perbelanjaan atau yang nama kerennya adalah mall.

Coba kita hitung, ada berapa jumlah mall yang sudah ada di Jakarta saat ini. Eh, mungkin terlalu banyak ya untuk disebutkan di sini. Hmm, ambil contoh di daerah Senayan aja deh. Ada Senayan City, Plaza Senayan, STC, FX, dan kabarnya bakal segera dibangun Plaza Senayan Phase 2 dan Senayan Archipelago. Wah, di satu area aja ada empat mall dan dalam waktu dekat bakal bertambah jadi enam? Ini baru di daerah Senayan, belum lagi di area lain yang juga memiliki begitu banyak mall. Sebenarnya, saat ini mall memang menjadi primadona. Semua orang menghabiskan waktu di mall. Makan siang di mall, makan malam di mall, jalan-jalan di mall, rapat di mall, arisan di mall, pokoknya semuanya di mall deh. Mall pun kemudian beralih fungsi dari pusat perbelanjaan menjadi tempat gaya hidup yang sekaligus menjadi ruang publik. Kenapa hal ini bisa terjadi kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya ruang terbuka untuk publik, untuk masyarakat bisa berkumpul, berjalan-jalan, dan sebagainya. Ya, memang perbandingan antara jumlah mall dan ruang publik seperti taman kota memang berbanding sangat jauh, mungkin dari 10 jumlah mall yang dibangun tiap tahunnya, hanya satu hingga dua taman kota yang dibangun. Menyedihkan.

Untuk menyiasati tidak seimbangnya pembangunan mall dibandingkan dengan ruang publik di kota ini, saya dulu pernah berpikir mengenai konsep penggabungan antara mall, atau pusat perbelanjaan, dengan ruang publik seperti taman kota. Dan muncul lah ide konsep sebuah taman kota yang diintegrasikan dengan tempat berbelanja yang saya namakan LiFE, yang kepanjangannya adalah Living in Fine Environment.

Seperti apa sih LiFE itu?

LiFE itu sebenarnya adalah sebuah taman kota yang bisa menjadi ruang publik dan dikelola oleh pihak swasta. Selama ini, taman kota kan dikelola oleh Dinas Pertamanan yang notabene adalah di bawah Pemda Jakarta. Hmm, tanpa ada maksud mengecilkan, tapi kalau di bawah Pemda biasanya biaya untuk pemeliharaan taman kan pasti agak tersendat-sendat karena memang saat ini taman kota memang bukan prioritas. Jadi, dengan pengelolaan swasta seperti LiFE ini, taman kota semoga saja bisa lebih terawat dan rapi sehingga menyenangkan untuk warga Jakarta saling berkumpul dan menghabiskan waktu bersama-sama. Mungkin semua orang bakal bertanya-tanya, kalau dikelola swasta, dari mana dana untuk pemeliharaannya? Nah, di sini ini fungsi dari pengintegrasian taman kota / ruang publik dengan pusat perbelanjaan. Di dalam LiFE, pembagian ruang adalah sebesar 80:20. Ruang sebesar 80% dialokasikan untuk ruang publik, dan 20% sisanya untuk ruang retail. Ruang retail dalam LiFE berupa sebuah gedung kecil yang terdiri dari dua tingkat. Tingkat pertama difungsikan untuk tenant food & beverages, sedangkan di tingkat kedua untuk retail atau yang menjual barang-barang dan akan ada section yang dikhususkan untuk usaha-usaha dari UKM. Nah, pendanaan untuk memelihara taman itu nantinya berasal dari uang sewa dari gedung retail ini.

Nah, sisa ruang sebesar 80% adalah untuk sebuah taman besar. Taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kolam air mancur, water tap yang dapat diminum, kursi-kursi untuk bersantai, family playground, amphiteater untuk performance art dan pertunjukan musik di akhir minggu, jogging dan cycling track lengkap dengan tempat penyewaan sepeda, tempat parkir untuk sepeda pribadi, dan gedung parkir untuk mobil dan motor. Selain itu LiFe juga akan ditanami dengan rumput di sebagian besar arealnya dan berbagai macam bunga-bunga, serta ditumbuhi berbagai macam pohon-pohon yang rindang dan sekaligus menjadi semacam tempat konservasi bagi pohon-pohon dari jenis yang hampir langka. Ini sebenarnya juga menjadi tujuan utama LiFE, yaitu sebagai taman kota yang dapat menyaring polusi di tengah kota, “go green” lah kira-kira.

Kolam air mancur di KLCC Park, KL

Kolam air mancur di KLCC Park, KL

Selain dari menyewakan space untuk retail sebagai sumber dana untuk pemeliharaan, LiFE juga akan bekerja sama dengan berbagai perusahaan dalam penyediaan sarana-pra sarana taman. Kerja sama ini bisa dijadikan sebagai bentuk CSR dari perusahaan-perusahaan tersebut. Misalnya, untuk family playground akan dibangun oleh perusahaan yang concern dengan pertumbuhan anak-anak seperti Nestle atau Indofood. Atau panggung amphiteater yang disponsori oleh perusahaan multimedia seperti Sony atau Samsung. Jadi, family playground-nya nanti akan disebut sebagai Nestle Playground atau Indofood Playground atau amphiteater yang diberi nama Sony Amphiteater atau Samsung Amphiteater, lengkap dengan logo-logo perusahaan di alat permainan atau panggung yang sekaligus bisa menjadi alat marketing perusahaan mereka. Dengan banyaknya kerjasama di berbagai infrastruktur penunjang LiFE, diharapkan sih LiFE bisa berkembang dan terpelihara dengan baik.

Contoh playground di Central Park NYC

Contoh playground di Central Park NYC

Untuk lokasinya, saya sih inginnya LiFE dibangun di tengah-tengah kota. Sehingga bisa menjadi tempat warga Jakarta berkumpul untuk menghabiskan sore hari setelah bekerja atau beraktivitas. Ya kira-kira bakal dikondisikan seperti Central Park di NYC, Yoyogi Park di Tokyo, atau bahkan KLCC Park di KL, tapi dalam skala yang lebih kecil mengingat jarangnya ada tanah yang luas di tengah Kota Jakarta ini.

Taman di antara gedung-gedung tinggi seperti ini lah kira-kira LiFE nantinya

Taman di antara gedung-gedung tinggi seperti ini lah kira-kira LiFE nantinya

Yaaa, ini sih masih cita-cita saya saja. Masih terlalu jauh untuk direalisasikan. Tapi ya didoakan saja siapa tahu nantinya LiFE ini bisa benar-benar terwujud.

Oh iya, sebenarnya saya ada gambar sketsa bentuk LiFE kira-kira. Tapi saya belum sempat meng-scan gambar itu, jadi ya nanti saja lah menyusul.

NB : Waktu itu saya pernah blog-walking dan menemukan konsep yang mirip dengan LiFE dengan nama Active Space. Namun, Active Space lebih menitik beratkan pada ruang publik untuk beraktivitas olahraga seperti skateboarding, kolam renang umum, dan semacamnya. Sementara LiFE ini lebih lebih ke arah penghijauan namun juga bisa dimanfaatkan untuk beraktivitas.

Blogged with the Flock Browser

Tags: