Archive for Movie

Movie Marathon

Posted in Random Notes with tags , , , on January 3, 2009 by Primo

Just like every long holiday, I always provide myself with a pile of DVDs to watch. And for this time, I bought so many DVDs! Here they are:

Advertisements

JIFFest-ing

Posted in Creativity & Innovation, Personal Life, Random Notes with tags , , , , , , , on December 8, 2008 by Primo

I just got back from Kineforum @ Taman Ismail Marzuki for 10th Annual Jakarta International Film Festival (Jiffest). They screened “A View From The SEA” section there, a section for Southeast Asian movies.

I already missed two Jiffest year due to my study in Bandung which made me couldn’t get back to Jakarta just for the festival. But this year, they held the festival on the holiday (It’s Eid-ul Adha break!). Yeay! So, I decided to attend this year’s festival which (unfortunately) only runs for 5 days.

The movie that I just saw is “Punggok Rindukan Bulan (This Longing)”. It’s Malaysian movie directed by Azharr Rudin.

A film about a boy, barely in secondary school, Sidi and his father Adman, who both unknowingly cope with the sudden absence of a key female figure in their life. In probably separate story, a boyish young woman returns to photograph the backdrop of her past. Set in the border town of Johor Bahru, Malaysia. The literal meaning of the title is a Malay saying like “the owl misses the moon” a reflection of unrequited (and unconsummated) longing.” (Taken from Jiffest website).

It’s a “tough” movie. Need some times to get the whole point because it has two unparallel plot. IMO, it’s a bit draggy and so slooowww. But overall, it’s quite a nice movie. Nice cameraworks, great actors. Oh, thing that I don’t like from this movie is the sound! They don’t use any scoring or music illustration. But instead, they recorded on-the-set sound which made the movie so quiet but noisy.

The one that surprised me is Sharifah Amani, my favorite Malay actress, took part in this movie. She played character Riza, the girl on the second part of the movie. She acted well, just like in her other works; Sepet, Gubra, etc.

At the end of the screening, the commitee gave us a surprise, another surprise for me. Azharr Rudin, the director, came to the studio and we had some Q&A sessions. He explained that this movie is a mood-piece. So, the inexistence of scoring or music is made to built the “gloomy” mood of missing someone we love the most. Yes, refer to the title, people; “Punggok Rindukan Bulan (This Longing)”. Actually the Q&A session turned into a “critics time”, there was a woman that looked unsatisfied with the movie. She “slapped” Azharr by saying “I’ve waited for 2 hours to see nothing!”. Ouch. But I think that’s the point of film festival, we can share our thoughts of the movie directly to the director/producer so they get feedback from the audiences.

Actually, there’s another movie that I looked forward to watch; Thailand’s “A Moment In June”. But I couldn’t made it because the screening was on Saturday night when I was still on the way to Jakarta. So sad.

I guess tommorow I’m going back to Kineforum to catch “Wonderful Town”. But, have to check on my schedule first; Eid-ul Adha family gath, deadline for assignments, going back to Bandung. Argh!

The National Museum Of Film And Music

Posted in Creativity & Innovation, Ideas with tags , , , , on October 19, 2008 by Primo

Beberapa hari yang lalu gw nonton HBO, di situ ada film “Tenacious D: Pick of Destiny”. Cerita film itu tentang dua sahabat yang tergabung di sebuah group band, mereka berniat mencuri “pick of destiny” yang katanya dirasuki setan, jadi pick itu bisa bikin mereka hebat main musik. Nah, pick gitar itu ada di sebuah museum; museum musik. Nah! Set museum itu di filmnya keliatan keren banget! Setiap section punya dekorasi sendiri yang disesuaikan sama jenis musiknya. Misalnya, kalau ruangan untuk musik punk, ruangannya dipenuhi sama coretan-coretan yang ngegambarin punk dan jiwa rebel gitu.

And suddenly an idea popped out of my head.

Di Indonesia, museum itu identik sama benda-benda sejarah yang tua, kuno, berdebu, dan boooriiing. Makanya orang Indonesia jarang banget ada yang suka ke museum. Padahal, banyak informasi yang bisa didapet kalau kita datang ke museum. Setelah gw liat museum di film itu, gw terinspirasi untuk ngebangun:

The National Museum Of Film And Music

Nah, museum ini dibangun untuk mendokumentasikan perjalan sejarah musik dan film Indonesia dari tahun ke tahun. Gini gini, selama ini kan nggak ada pencatatan dan pengarsipan artefak-artefak musik dan film yang tertata rapi di Indonesia, jadi museum ini bakal dibikin untuk mengakomodir hal itu semua. Pendokumentasian ini menurut gw penting baget karena gw nggak mau generasi yang akan datang nggak tahu kalau industri musik dan film di Indonesia pernah jatuh bangun.

National Centre of Popular Music at Sheffield, UK

National Centre of Popular Music at Sheffield, UK

Buat pembagian ruangan, museum ini bakal dibagi jadi dua gedung; gedung film dan gedung musik. Masing-masing memiliki ruang exhibition yang dibagi dalam beberapa kategori. Kalau gedung film, ruangan bakal dibagi berdasarkan dekade. Nah, tiap-tiap ruangan dekade itu bakal didekor sedemikian rupa sehingga nuansanya sesuai dengan dekadenya. Yang bakal dipajang di gedung film ini adalah poster-poster film Indonesia sepanjang masa lengkap dengan sinopsis dan memorabilia film-film tersebut. Dan yang menariknya, di tiap display akan dilengkapi oleh LCD screen kecil yang menayangkan potongan film yang dipajang. Selain itu, gedung film ini akan dilengkapi ruangan khusus untuk menyimpan rol-rol film dari jaman dulu sampai yang paling baru. Di gedung film juga bakal ada sebuah studio film besar yang nantinya bisa digunakan sebagai tempat premiere film-film Indonesia.

Memorabilia from Hollywood Movie, Dreamgirls

Memorabilia from Hollywood Movie, Dreamgirls

Seattle Art Musem at Seattle, USA

Seattle Art Musem at Seattle, USA

Sedangkan gedung musik akan dibagi berdasarkan genre musik. Ruangan exhibitionnya juga akan didekor sesuai dengan mood jenis musiknya. Di tiap ruangannya akan ada display band-band dan penyanyi yang terkenal di tiap genrenya. Display tersebut akan menampilkan foto band atau penyanyi tersebut, diskografinya, dan sebuah listening station yang bisa dipakai pengunjung untuk mendengar lagu-lagu dari band atau penyanyi tersebut. Di gedung musik ini juga akan ada sebuah concert hall yang besar yang bisa dipakai untuk konser musisi Indonesia.

Nah, yang menarik, antara gedung film dan gedung musik akan digabungkan oleh koridor yang memajang soundtrack film Indonesia. Kenapa soundtrack? Karena soundtrack adalah penggabungan antara industri musik dan film. Jadi, koridor ini secara simbolis menggambarkan pengintegrasian antara musik dan film.

Dengan arsitektur museum yang modern dan dibuat sangat nyaman, diharapkan sih orang Indonesia jadi rajin datang ke museum, setidaknya museum ini.

Hmm, kapan ya gw bisa merealisasikan museum ini?

PS: Special thanks for Dani, yang udah ikutan nambahin ide museum ini..